Assalamualaikum


Selasa, 27 Januari 2015

Pentingnya komunikasi dalam manajemen

Aristya Fajrina D
3PA08 (1151253)

Pentingnya komunikasi dalam manajemen 

Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya.
Beberapa definisi komunikasi adalah:
1. Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti atau makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid).
2. Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
3. Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).
4. Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W)
5. Komunikasi adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain, komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi).
 Proses Komunikasi memungkinkan manejer untuk melaksanakan tugas-tugas mereka. Informasi harus dikomunikasikan kepada stafnya agar mereka mempunyai dasar perencanaan, agar rencana-rencana itu dapat dilaksanakan. Semua manajer melibatkan proses komunikasi. Proses komunikasi dapat dilihat pada skema dibawah ini:
Proses Komunikasi
1. Pengirim pesan (sender) dan isi pesan/materi
Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas.
Materi pesan dapat berupa :
a. Informasi
b. Ajakan
c. Rencana kerja
d. Pertanyaan dan sebagainya
2. Simbol atau Isyarat
Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau simbol sehingga pesannya dapat dipahami oleh orang lain. Biasanya seorang manajer menyampaikan pesan dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan, kepala, mata dan bagian muka lainnya). Tujuan penyampaian pesan adalah untuk mengajak, membujuk, mengubah sikap, perilaku atau menunjukkan arah tertentu.
3. Media atau Penghubung
Adalah alat untuk penyampaian pesan seperti ; TV, radio surat kabar, papan pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan yang akan disampaikan, jumlah penerima pesan, situasi dan sebagainya.
4. Mengartikan kode atau Isyarat
Setelah pesan diterima melalui indera (telinga, mata dan seterusnya) maka si penerima pesan harus dapat mengartikan simbul/kode dari pesan tersebut, sehingga dapat dimengerti atau dipahaminya.
5. Penerima Pesan
Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari sipengirim meskipun dalam bentuk code/isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim.
6. Balikan (feedback)
Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan seorang pengirim pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap si penerima pesan Hal ini penting bagi manajer atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Balikan dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan. Balikan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak.
Balikan yang diberikan oleh orang lain didapat dari pengamatan pemberi balikan terhadap perilaku maupun ucapan penerima pesan. Pemberi balikan menggambarkan perilaku penerima pesan sebagai reaksi dari pesan yang diterimanya. Balikan bermanfaat untuk memberikan informasi, saran yang dapat menjadi bahan pertimbangan dan membantu untuk menumbuhkan kepercayaan serta keterbukaan diantara komunikan, juga balikan dapat memperjelas persepsi.
7. Gangguan
Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi akan tetapi mempunyai pengaruh dalam proses komunikasi, karena pada setiap situasi hampir selalu ada hal yang mengganggu kita. Gangguan adalah hal yang merintangi atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya
   Pengorganisasian memerlukan komunikasi dengan bawahan tentang penugasan mereka. Pengarahan mengharuskan manejer untuk berkomunikasi dengan bawahannya agar tujuan kelompok dapat tercapai. Jadi seorang manejer akan dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajemen melalui interaksi dan komunikasi dengan pihak lain
2.3. Fungsi dan Tujuan Komunikasi Dalam Manajemen
Komunikasi menjalankan empat fungsi utama sebagaimana yang diutarakan oleh Stephen P. Robbins (1996:5) yang telah diterjemahkan oleh Hadyana Pujaatmaka sebagai berikut:
1.      Kendali
Komunikasi bertindak untuk mengendalikan perilaku anggota organisasi
2.      Motivasi
Komunikasi membantu perkembangan motivasi dengan menjelaskan kepada para karyawan apa yang harus dilakukan, bagaimana mereka bekerja dengan, dan apa yang dapat dikerjakan untuk memperbaiki kinerja jika itu dibawah standar.
3.      Pengungkapan emosional
Bagi banyak karyawan, kelompok kerja mereka merupakan sumber utama untuk interaksi sosial. Komunikasi yang terjadi di dalam kelompok itu merupakan mekanisme fundamental dengan mana anggota-anggota menunjukkan kekecewaan dan rasa puas mereka.
4.      Informasi
Komunikasi memberikan informasi yang diperlukan individu dan kelompok untuk mengambil keputusan dengan meneruskan data guna mengenali dan menilai pilihan-pilihan alternatif.

sumber:

https://ajengjiwapangestu.wordpress.com/2014/01/15/komunikasi-dalam-manajemen/
http://hermankaenda.blogspot.com/2012/06/komunikasi-dalam-manajemen.html


Minggu, 18 Januari 2015

Stres dan Konflik dalam Manajemen

Aristya Fajrina D
3PA08 (11512153)

   Konflik dalam perusahaan terjadi dalam berbagai bentuk yang merintangi hubungan individu dengan kelompok atau individu dengan kelompok yang lebih besar. Individu juga suka terjebak dalam konflik yang berkepanjangan antar karyawan. Yang dimaksud konflik itu sendiri adalah suatu pertentangan atau perselisihan antar anggota yang satu dengan anggota lainnya di dalam suatu perusahaan atau organisasi. Kemudian konflik bisa disebabkan karena adanya perbedaan pendapat, persepsi, tujuan, nilai antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya.
    Konflik menurut Robbins dan Judge (2-2008:173) konflik sebagai suatu proses yang dimulai ketika satu pihak memiliki persepsi bahwa pihak lain akan atau telah mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang menjadi kepedulian atau kepentingan pihak pertama. Penyebab konflik seperti:

     1. Faktor manusia. Yang dimaksud faktor manusia disini seperti: bisa ditimbulkan karena atasan itu sendiri mungkin karena gaya kepemimpinannya, ciri-ciri kepribadiannya, personil yang mempertahankan peraturan-peraturan secara kaku.
    2. Faktor Organisasi. Yang dimaksud faktor organisasi disini seperti: persaingan dalam menggunakan sumberdaya, masalah "status", hambatan dalam komunikasi, adanya perbedaan persepsi dan nilai.

Menurut James A. F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada 5 jenis konflik, yaitu:
    1. Konflik Intrapersonal. Konflik intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. konflik ini terjadi pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
    2. Konflik Interpersonal. Konflik Interpersonal adalah pertentangan antara seseorang dengan orang lain karena disebabkan oleh adanya kepentingan atau adanya keingininan.
    3. Konflik antar individu-individu dengan kelompok-kelompok. Yang berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekanan kepada mereka oleh sekelompok kerja mereka.
    4. Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama. Konflik antar lini dan staff, pekerja dan pekerja-manajemen merupakan dua macam bidang konflik antar kelompok
    5. Konflik antar organisasi. konflik ini terjadi berdasarkan pengalaman-pengalaman dan ternyata telah mengembangkan produk-produk baru, teknologi baru dan pemanfaatan yang lebih efisien.
Akibat dari konflik terdiri dari akibat positif dan akibat negatif
Akibat negatif dari konflik itu sendiri seperti :
    1. Menghambat Komunikasi
    2. Mengganggu kerja sama atau team work
    3. Menggangu proses produksi, bahkan dapat menurunkan produksi
Akibat positif dari konflik itu sendiri seperti:
    1. Membuat organisasi tetap hidup dan harmonis
    2. Memunculkan keputusan-keputusan yang bersifat inovatif

Stres

    Stres diartikan sebagai suatu kondisi ketegangan fisik ataupun psikis yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seorang karyawan. Penyebab stres kerja antara lain: beban kerja yang terlalu berat atau berlebihan, iklim kerja yang tidak sehat, otoritas yang tidak memadai yang berhubungan dengan tanggung jawab. Menurut pendapat keith Davis dan John W. Newstrom, (1989:490) ada 4 pendekatan terhadap stres kerja, yaitu:
     1. Pendekatan sosial (social support). Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan kepuasan sosial terhadap karyawannya. seperti memberikan lelucon.
     2. Pendekatan melalui meditasi (meditation). Pendekatan ini perlu untuk karyawan dengan cara berkonsentrasi ke alam pikiran dan menenangkan emosi.
    3. Pendekatan biofeedback. Pendekatan ini dilakukan melalui bidang medis. Dengan menggunaka bidang medis, psikiater, dan psikolog sehingga diharapkan karyawan agar dapat menghilangkan stres.
    4. Pendekatan program kesehatan pribadi. Pendekatan ini merupakan pendekatan preventif sebelum stres. Dalam hal ini karyawan saat periode lanjut atau kontinu memeriksa kesehatan, merelaksasikan otot-otot.

Setelah mengetahui penyebab stres, pendekatan stres melalui 3 pola cara mengatasi stres, antara lain:
    1. Pola sehat yaitu pola yang menghadapi stres yang terbaik dengan kemampuan mengelola perilaku dan tindakan sehingga adanya stres tidak menimbulkan gangguan, akan tetapi lebih sehat dan menjadi berkembang. Mereka yang tergolong kelompok ini mempunyai kemampuan untuk mengelola waktu dan kesibukan dengan cara yang baik.
      2. Pola harmonis yaitu Pola menghadapi stres dengan cara mengelola waktu dan kegiatan secara harmonis dan tidak menimbulkan hambatan. Dalam pola ini, invidi mampu mengelola waktu dan kesibukan secara teratur.
      3. Pola patalogis yaitu pola menghadapi stres dengan berdampak berbagai gangguan fisik maupun sosial psikologis. Dalam pola ini, individu menghadapi berbagai hambatan atau tantangan dengan cara-cara yang tidak memiliki kemampuan dan keteraturan mengelola tugas dan waktu.


Daftar Pustaka

http://ossy-strees-iseng.blogspot.com/2010/05/sadness-hollow-loveless.html
http://www.slideshare.net/firmanbach/konflik-dan-stress-di-tempat-kerja
http://www.slideshare.net/xxxzizaoxxx/konflik-dan-stress-kerja





Senin, 12 Januari 2015

TUGAS PSIKOLOGI MANAJEMEN MINGGU 1

Aristya Fajrina Dimayanti
3PA08 (11512153)

1.    Definisi
Controlling atau pengawasan dan pengendalian (wasdal) adalah proses untuk mengamati secara terus-menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi.
Controlling atau pengawasan adalah fungsi manajemen dimana peran dari personal yang sudah memiliki tugas, wewenang dan menjalankan pelaksanaannya perlu dilakukan pengawasan agar supaya berjalan sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan. Di dalam manajemen perusahaan yang modern fungsi control ini biasanya dilakukan oleh divisi audit internal. Pengawasan merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi manajemen yang lain, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan.
Dalam hal ini, Louis E. Boone dan David L. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai: “the process by which manager determine wether actual operation are consistent with plans”. Sementara itu, Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan, bahwa: “pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan–tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.”
Dengan demikian, pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya. Pengawasan juga merupakan bagian dari fungsi manajemen, disamping fungsi perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaannya. Pengawasan juga dapat mempengaruhi proses perencanaan di masa yang akan datang, karena pengawasan dapat diketahui kelemahan dan kesalahan yang terjadi agar dapat dihindari di kejadian di masa yang akan datang. Selanjutnya dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan, yaitu:
a.     Penetapan standar pelaksanaan.
b.    Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan.
c.    Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata.
d. Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan
e.    Pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan.
2.  Prinsip Pengawasan
1)    Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan harus dimengerti oleh staff dan hasilnya mudah diukur. Misalnya tentang waktu dan tugas-tugas pokok yang harus diselesaikan oleh staff.
2)    Fungsi pengawasan harus difahami pimpinan sebagai suatu kegiatan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
3)    Standar unjuk kerja harus dijelaskan kepada seluruh staff karena kinerja staf akan terus dinilai oleh pimpinan sebagai pertimbangan untuk memberikan reward kepada mereka yang dianggap mampu bekerja.
3.    Manfaat Pengawasan Bila fungsi wasdal dilaksanakan dengan tepat, organisasi akan memperoleh manfaat berupa:
1) Dapat mengetahui sejauh mana program sudah dilaukan oleh staff, pakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah sumberdaya telah digunakan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Fungsi wasdal akan meningkatkan efisiensi kegiatan program.
2)   Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staff dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
3)  Dapat mengetahui apakah waktu dan sumber daya lainnya mencukupi kebutuhan dan telah dimanfaatkan secara efisien.
4)   Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan.
5) Dapat mengetahui staff yang perlu diberikan penghargaan, dipromosikan atau diberikan pelatihan lanjutan.


Daftar Pustaka

  1. http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2014/04/16/fungsi-controlling-pengendalian-pengawasan-dalam-manajemen-pendidikan-649487.html diakses pada hari Minggu, 11 Januari 2015
  2. http://rheinduniatulisan.blogspot.com/2010/08/fungsi-controlling-pengawasan-dan.html diakses pada hari Minggu, 11 Januari 2015
  3. https://attawijasa20.wordpress.com/2011/05/06/pengawasan-dan-kontrol-dalam-manajemen-pendidikan/ diakses pada hari Minggu, 11 Januari 2015





Rabu, 12 November 2014

PENGORGANISASIAN

Nama  : Aristya Fajrina Dimayanti
Kelas  : 3PA08
Npm   : 11512153



A.   PENGERTIAN PENGORGANISASIAN

Pengorganisasian adalah langkah untukmenetapkan, menggolongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok, wewenang dan pendelegasian wewenang oleh pimpinan kepada staf dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Berdasarkan defnisi tersebut maka fungsi pengorganisasian merupakan alat untuk memadukan (sinkronisasi) dan mengatur semua kegiatan yang ada kaitannya dengan personil, finansial, materil dan tata cara untuk mencapai tujuan organisasi yang telah disepakati bersama. Istilah pengorganisasian mempunyai  berbagai macam pengertian. Istilah tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan hal-hal berikut ini :
1.     Cara manajemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling efektif   sumber daya-sumber daya keuangan phisik, bahan baku,dan tenaga kerja organisasi.
2.     Bagaimana organisasi mengelompokkan kegiatan-kegiatannya, dimana setiap pengelompokan diikuti dengan penugasan seorang manajer yang diberi wewenang untuk  mengawasi anggota-anggota kelompok.
3.     Hubungan antara fungsi-fungsi, jabatan-jabatan, tugas-tugas dan para karyawan.
4.     Cara dalam mana para manajer membagi lebih lanjut tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam departemen mereka dan mendelegasikan wewenang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas tersebut. Pengorganisaian merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal, mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan di antara para anggota organisasi, agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien.


B.   PROSEDUR DALAM PROSES PENGORGANISASIAN
1.      Pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi.
2.      Pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang secara logis dapat dilaksanakan oleh satu orang. Pembagian kerja sebaiknya tidak terlalu berat sehingga tidak dapat diselesaikan,atau terlalu ringan sehingga ada waktu mengganggur, tidak efisien dan terjadi biaya yang tidak perlu.
3.     Pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan pra anggota organisasi menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis. Mekanisme pengkoordinasian ini akan membuat para anggota organisasi menjadi perhatiannya pada tujuan organisasi dan mengurangi ketidak efisienan dan konflik-konflik yang merusak.
Pelaksanaan proses pengorganisasian yang sukses akan membuat suatu organisasi dapat mencapai tujuananya. Proses ini akan tercermin pada struktur organisasi, yang mencakup aspek-aspek penting organisasi dapat mencakup aspek-aspek penting organisasi dan proses pengorganisasian yaitu :
1.      Pembagian kerja
2.      Departementalisasi(atau sering disebut dengan istilah departementasi)
3.      Bagan organisai formal
4.      Rantai perintah dan kesatuan perintah
5.      Tingkat-tingkat hirarki manajemen
6.      Saluran komunikasi
7.      Pengguna komite
8.      Rentang manajemen dan kelompok-kelompok informal yang dapat dihindarkan.


C.   STRUKTUR ORGANISASI
Struktur organisasi dapat didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal dengan mana organisasi yag dikelola. Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan- hubungan di antara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi, maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi. Struktur ini mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran (ukuran) satuan kerja
Faktor-faktor utama yang menentukan perancangan struktur organisasi adalah sebagai berikut :
1.      Strategi organisasi  untuk mencapai tujuannya. Dimana strategi akan menjelaskan bagaimana aliran wewenang dan saluran komunikasi dapat disusun di antara para manajer dan bawahan. Aliran kerja sangat di pengaruhi strategi,sehingga berubah maka struktur organisasi juga berubah.
2.      Teknologi yang digunakan. Contoh perusahaan mobil memerlukan tingkat standarisasi dan spesialisasi yang lebih tinggi di bidang industri pakaian.
3.      Anggota (karyawan) dan orang-orang yang terlibat dalam organisasi.
4.      Ukuran organisasi, yang apabila semakin besar ukuran organisasi,struktur organisasi akan semakin kompleks dan harus di pilih bentuk struktur yang tepat.

D.    UNSUR-UNSUR STRUKTUR ORGANISASI
1.      Spesialisasi kegiatan berkenaan dengan spesifikasi tugas-tugas individual dan kelompok kerja dalam organisasi (pembagian kerja) dan penyatuan tugas-tugas tersebut menjadi satuan-satuan kerja (departementalisasi).
2.      Standardinasi kegiatan ,merupakan prosedur-prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin terlaksananya kegiatan seperti yang direncanakan.
3.      Koordinasi kegiatan, menunjukkan prosedur-prosedur yang mengintregasikan fungsi-fungsi satuan-satuan kerja dalam organisasi.
4.      Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan yang menunjukkan lokasi kekuasaan pembuatan keputusan.
5.      Ukuran satuan kerja menunjukkan jumlah karyawan dalam suatu kelompok kerja.
Tiang dasar pengorganisasian adalah prinsip pembagian kerja (division of labor). Yang memungkinkan sinergi terjadi. Untuk mengembangkan fungsi pengorganisasian, seorang manajer dapat mengetahui pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok, hubungan organisatoris antar manusia yang menjadi anggota dan staf sebuah organisasi, pendelegasian wewenang, serta pemanfaatan dan fasilitas fisik yang dimiliki organisasi. Kualifikasi personalia yang rendah digunakan dan latihan jabatan lebih mudah. Gerakan-gerakan dan perpindahan yang percuma dari komponen pekerjaan yang besar diminimumkan. Lebih dari itu, pembagian kerja mengarahkan penanaman pada peralatan dan mesin-mesin yang efisien untuk meningkatkan produktifitas. Namun apabila pembagian kerja dilakukan secara ekstrim maka akan menimbulkan kebosanan, keletihan, monoton dan kehilangan motivasi yang dapat menghasilkan ketidak efisienan dan bukan efisiensi.

E.   BAGAN STRUKTUR ORGANISASI FORMAL

Bagan organisasi memperlihatkan susunan fungsi-fungsi, departemen-departemen, atau posisi-posisi organisasi dan menunjukkan bagaimana hubungan di antaranya. Satuan-satuan organisasi yang terpisah biasanya digambarkan dalam kotak-kotak,dimana di hubungkan satu dengan yang lain dengan garis yang menunjukkan rantai perintah dan jalur komunikasi formal. Bagan organisasi menggambarkan lima aspek utama suatu struktur organisasi,yang secara ringkas dapat di uraikan sebagi berikut :
1.      Pembagian kerja (setiap kotak menunjukkan individu atau kelompok yang bertanggung jawab)
2.      Manajer dan bawahan atau rantai perintah (menunjukkan hubungan wewenang dan tanggungjawab yang menghubungkan atasan dan bawahan)
3.      Tipe pekerjaan yang dilaksanakan
4.      Pengelompokan segmen-segmen pekerjaan (departementalisasi)
5.      Tingkatan manajemen (menunjukkan keseluruhan hirarki manajemen)
Seberapa luas tingkat spesialisasi kerja dalam organisasi dapat di perkirkan dengan membaca label-label yang menunjukkan pekerjaan-pekerjaan yang berbeda dan bagaimana tugas-tugas dikelompokkan. Garis menunjukkan rantai perintah  yang merupakan aspek kunci koordinasi dalam setiap organisasi, tetapi tanpa informasi tambaha akan menimbulkan gambar yang tidak jelas. Kelemahan atau kekurangan utama bagan adalah masih banyak hal-hal yang tidak jelas atau tidak di tunjukkan. Bagan, sebagai contoh tidak menunjukkan seberapa besar tingkat wewenang dan tanggung jawab setiap tingkatan manajerial. Bagan juga tidak menunjukan hubungan-hubungan informal dan saluran komunikasi, dimana organisai tidak dapat berfungsi secara efisien.
Dengan pembagian wewenang dapat dibedakan berbagai tipe organisasi yaitu:
1.      Wewenang lini (Linie authority) yaitu wewenang yang mengalir secara vertikal. Pelimpahan wewenang dari atas ke bawah dan pengawasan langsung oleh pemimpin kepada staf yang menerimanya.
2.      Wewenang staf (Staf authority) yaitu wewenang yang mengalir ke samping yaitu wewenang yang diberikan kepada staf khusus untuk membantu melancarkan tugas staf yang diberikan wewenang lini. Wewenang staf diberikan karena ada spesialisasi adanya tugastugas menejerial yang terkait dengan fungsi staf seperti pengawasan, pelayanan kepada staf, atau penasihat.
3.      Wewenang staf dan lini. Perpaduan antara wewenang lini dan staf merupakan bentuk struktur organisasi yang paling umum saat ini. Bentuk organisasi kelihatan kompleks tetapi sesungguhnya adalah pengembangan dari bentuk lini dan staf.

Bentuk-bentuk Bagan Organisasi

Menurut henry G Hodges, terdapat empat bentuk bagan organisasi, yaitu :
1.      Bentuk pyramid. Bentuk ini yang paling banyak digunakan karena sederhana, jelas dan mudah di mengerti.
2.      Bentuk vertical. Bentuk vertical agak menyerupai bentuk pyramid, yaitu dalam pelimpahan kekuasaan dari atas ke bawah. hanya bagan vertical berwujud tegak sepenuhnya.
3.      Bentuk horizontal, dimana wewenang dan tanggungjawab di gambarkan dari kiri ke kanan.
4.      Bentuk lingkaran,bagan in menekankan pada hubungan antara satu jabatan dengan jabatan lain.

Daftar Pustaka
http://ayurai.dosen.narotama.ac.id/files/2012/10/2012_P3ng9am3n.3.pdf